Monday, September 9, 2013

Politik Pendidikan



Politik Pendidikan
Ida F Priyanto*

Politik pendidikan belum berkembang di Indonesia. Sementara negara lain terus berpacu dalam pengembangan politik pendidikan tersebut. Mobilisasi mahasiswa Cina, India dan Korea Selatan dalam dunia pendidikan sangat terlihat saat ini. Perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Eropa saat ini juga didominasi mahasiswa asing dari China dan India.
Mahasiswa dari China yang belajar di Amerika Serikat mencapai 157.558 orang menurut data IEE tahun ini. Sementara itu jumlah mahasiswa India di Amerika Serikat adalah 103.895 orang, disusul dengan Korea Selatan yang mencapai 73.361 orang. Ketiga negara tersebut mengirimkan mahasiswanya dalam berbagai bidang tetapi terutama adalah dalam bidang sains dan teknologi. Sementara itu mahasiswa dari Vietnam yang mengikuti pendidikan di Amerika Serikat mencapai 14.808 orang dan dari Indonesia adalah 6.942 orang (50 persen menurun dibanding jumlah sebelum tahun 1997/1998).
Sementara negara-negara kecil dengan penduduk sangat kecil mencari kader-kader mahasiswa cerdas dari negara berkembang untuk mendapatkan pendidikan, melakukan penelitian dan bahkan bekerja atau menjadi ilmuwan di negara tersebut. Singapore telah beberapa tahun mengundang anak-anak cerdas dari negara berkembang sejak usia sekolah menengah untuk mengikuti pendidikan di negara tersebut dan menghasilkan penelitian disana. Saat ini Inggris juga mulai menarik mahasiswa S1 untuk belajar di Inggris.  Tentu mereka memiliki tujuan yang sangat terkait dengan politik pendidikan.
Malaysia juga sudah memulai hal tersebut dengan mengirimkan banyak mahasiswa tingkat S1 ke berbagai negara termasuk ke Indonesia dan kemudian setelah lulus mereka kembali ke tanah air dan membangun peta pendidikan dan penelitian. Hal ini dapat kita lihat dari pertumbuhan penelitian perguruan tinggi Malaysia yang saat ini sudah 9 kali lebih besar dibandingkan jumlah penelitian dari Indonesia, padahal jumlah penduduk Malaysia jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Namun Malaysia memang membangun negara dan berguru dari negara lain untuk kemudian membangun pendidikan dan penelitian dengan benar. Salah satu contoh adalah Petronas yang dulu berguru dari Pertamina dan saat ini sudah mampu mengungguli Pertamina.
Di Asia Tenggara, Singapore dan Malaysia sama-sama memiliki output penelitian sampai 9 kali lebih besar di banding Indonesia. Menurut data riset terbaru Scopus yang digunakan untuk perankingan perguruan tinggi internasional tahun ini, pada tahun 2011 Malaysia telah menghasilkan 19.566 produk riset yang termuat di dalam jurnal internasional dan Singapore mencapai 15.198 produk penelitian dan kemudian disusul oleh Thailand yang mencapai 10.290 produk penelitian sedangkan Indonesia adalah 2.975. Keunggulan riset Malaysia atas Singapore layak menjadi perhatian.
Dalam kurun waktu 10-20 tahun mendatang peta politik pendidikan skala makro akan sangat terlihat terjadi pergeseran-pergeseran yang luar biasa. India akan terus berkembang terutama dalam bidang sains dan engineering, sedangkan Cina, selain mengembangkan bidang sains dan teknologi, juga mengembangkan bidang-bidang lainnya termasuk social dan humaniora. Tidak kalah menarik adalah perkembangan dari negara seperti Korea Selatan dan Vietnam yang juga terus mengembangkan mahasiswa baru tingkat S1 di luar negeri. Dari jumlah mahasiswa Korea Selatan yang belajar di Amerika Serikat, 50 persen adalah mahasiswa S1, sedangkan dari Vietnam 74.2 persen.
Perkembangan di atas sangat menarik tetapi kurang begitu diamati dalam dunia pendidikan kita di Indonesia. Kalaupun mengamati, mereka juga akan terganjal dengan politik di dalam negeri. Politik pendidikan membutuhkan para pemikir di skala makro. Kita juga membutuhkan politisi-politisi yang mampu membaca peta politik pendidikan di dunia dan mengimplementasikannya untuk perkembangan bangsa. Kita tidak perlu terlalu memikirkan proporsi berapa banyak mahasiswa belajar di dalam atau di luar negeri, tetapi bagaimana agar mahasiswa-mahasiswa yang belajar di luar negeri kembali ke Indonesia dan bangga membangun bangsa dan yang belajar di dalam negeri menunjukkan karyanya di kancah internasional karena kita memiliki kekayaan ilmu yang sangat luar biasa.
Saat ini banyak orang peduli pendidikan tetapi dengan kacamata sosial. Memberikan beasiswa kepada mereka yang tidak mampu agar dapat mengenyam pendidikan tinggi dan dapat bekerja dan hidup lebih layak. Jadi prinsip utama pembangunan pendidikan masih terbatas pada pemikiran pemberian bantuan pendidikan bagi yang kurang mampu. Sudah waktunya konsep ini mulai dikaitkan lebih tinggi lagi dalam skala politik pendidikan. Mewadahi anak-anak cerdas untuk dikembangkan sebagai pemikir unggul untuk berkompetisi dalam politik pendidikan sangat diperlukan. Politik lokal pendidikan perlu disinergikan sehingga menjadi pola pendidikan yang besar dan dapat membangun peta politik pendidikan Indonesia.
Rasa nasionalisme saja tidak cukup untuk membangun politik pendidikan. Dibutuhkan pemikiran yang lebih besar lagi dalam tingkat nasional agar posisi pendidikan dan riset Indonesia bisa semakin diakui secara Internasional. 
*Ida F Priyanto, iSchool, PhD Interdisciplinary Studies in Information Science, University of North Texas, USA

No comments:

Post a Comment