Monday, September 9, 2013

Era Zettabyte dan Matinya Etika



Era Zettabyte dan Matinya Etika

Ida F Priyanto

Pada  tahun 2003,  Universitas California memperkirakan bahwa penduduk dunia telah mengumpulkan sekitar 12 exabyte data (1 exabyte sama dengan 1018 bytes atau sama dengan memutar video selama sekitar 50.000 tahun. Itupun hanya penggalan sejarah manusia dari awal sampai masa penemuan komputer. Para ahli di Universitas California juga memperkirakan bahwa media cetak, film, CD, dan media penyimpanan lainnya telah berkontribusi sekitar 5 exabyte data hanya selama tahun 2002 saja. Dan itu sama dengan 37.000 perpustakaan baru seukuran Library of Congress.
Kalau dilihat jumlah penduduk dunia pada tahun 2002, dimana diperkirakan sekitar 800MB data dihasilkan ooleh setiap orang, maka dapat dikatakan bahwa setiap bayi yang lahir membawa 30 kaki buku, atau sekitar 800MB data cetak. Dar ijumlah total data yang ada, 92 persen  tersimpan di dalam harddisk atau media lain: setiap orang kini memiliki data yang luar biasa lebih dibandingkan masyarakat kita sebelum beralih ke dunia digital.
Menurut data jumlah data di dunia sudah 6 kali lipat, dari 161 exabyte pada tahun 2006 menjadi 988 exabyte pada tahun 2010, sehingga era tersebut sering disebut dengan exaflood. Dan karena pertambahan data begitu cepat, maka tahun ini kita sudah memasuki era zettabyte (1,000 exabyte) yang ditandai dengan jumlah data mencapai lebih dari 1 zettabyte dengan jutaan teknologi informasi.
Teknologi informasi—dari ponsel, tablet, netbook, laptop, desktop, dsb—telah menjadi media yang selalu bersama masyarakat kita. Teknologi informasi telah sangat membantu kita dalam berbagai hal baik sekedar saling berkabar dengan kawan sampai ke dunia pendidikan, ekonomi, dan bahkan sistem pertahanan.
Manfaat teknologi informasi sangat besar untuk berbagai keperluan. Ketika saya kuliah di Inggris 20 tahun yang lalu, hampir tiap hari menulis surat ke rumah dan tumpukan kertas surat membumbung di kamar. Kalau ingin menelpon ke rumah, saya memberitahu dulu kapan akan menelpon, lalu beberapa hari kemudian pergi ke jalan untuk mendapatkan telpon umum dan bisa menelpon ke rumah. Saat ini hampir setiap hari saya gunakan media teknologi informasi untuk berkomunikasi dan melihat suasana rumah secara langsung.
Namun demikian, teknologi informasi juga telah membawa banyak kerugian dan musibah bagi sebagian orang dari sekedar gulung tikarnya wartel (dan kini secara perlahan gulung tikarnya warnet), gangguan kenyamanan dan ketenangan sampai dengan tindak kejahatan yang semakin luas.
Ponsel kini sering menerima sms iklan atau memberi kabar burung mendapatkan hadiah jutaan atau milyaran rupiah, email kita juga sering mendapatkan kabar permintaan pertolongan karena “kawan“ kita mendapatkan musibah, ponsel kita juga mendapatkan berbagai iklan yang tidak selalu kita butuhkan. Email dan jejaring sosial kita pun sering mendapatkan informasi-informasi yang sangat mengganggu kenyamanan. Kejahatan korporasi yang memberikan alamat email atau nomer handphone seluruh pelanggan kepada orang atau lembaga tertentu untuk menawarkan jasa, dan berbagai hal lain yang membuat kehidupan menjadi tidak nyaman. Teknologi informasi juga biasa digunakan untuk membantu mereka yang mengikuti tes atau ujian masuk.
Etika atau dalam bahasa Jawa unggah-ungguh yang kita miliki semakin luntur karena munculnya teknologi informasi. Dalam rapat-rapat sering kita lihat bagaimana keberadaan orang secara fisik ada, tetapi pikiran tidak di tempat karena penggunaan gadget di genggaman. Atau dia harus keluar masuk ruang pertemuan karena ada telpon yang terus-menerus. Lebih parah lagi kalau menerima telpon di dalam ruang rapat! Bunyi dering ponsel juga sering mengganggu di dalam ruang pertemuan dan tidak kalah menarik adalah atraksi di berbagai tempat: dari menelpon sambil menyetir mobil, mengirim sms sambil menyetir, atau menelpon sambil mengendarai sepeda motor atau bahkan sms sambil mengendarai sepeda motor. Hal-hal yang mungkin tidak disadari oleh mereka yang melakukan, padahal sangat mungkin bisa menimbulkan kecelakaan atau mengganggu orang lain. Unggah-ungguh sudah sangat luntur dan mungkin akan lenyap karena teknologi informasi.
Di waktu yang akan datang, kita akan semakin melihat banyak orang berjalan dengan headset. Ada yang berbicara (ponsel) sambil jalan tanpa melihat kalau disitu sedang ada orang-orang tua duduk; ada yang mendengarkan musik melalui headset sehingga tidak sempat melihat ada orang sedang mengikuti hajatan. Hal-hal semacam ini semakin hari semakin kita lihat terjadi. Dan sekali lagi unggah-ungguh seperti nyuwun sewu, nderek langkung, dan sebagainya akan semakin hilang dalam budaya bangsa kita karena teknologi informasi yang ada di genggaman.
Mendidik masyarakat beretika sangat penting dan sangat perlu dilakukan. Hal itu tentu dapat dimulai di rumah. Peran orang tua sangat penting dalam mendidik putra-putrinya untuk menggunakan teknologi informasi.  Demikian halnya peran sekolah dan perguruan tinggi—guru dan dosen dapat memberi contoh dan sekaligus mengajarkan etika teknologi informasi. Kantor-kantor juga perlu membangun etika dan aturan penggunaan berbagai jenis teknologi dari komputer sampai ponsel pribadi. Mungkin juga perlu ada tilang bagi mereka yang menelpon atau sms sambil mengemudikan mobil atau mengendarai sepeda motor sebagaimana dilakukan di negara-negara lain.
Membangun etika teknologi informasi akan berdampak lebih baik dibandingkan sekedar sweeping berkala di beberapa tempat.

*Ida F Priyanto
PhD Student, College of Information, University of North Texas, USA

No comments:

Post a Comment