Monday, September 9, 2013

Era Zettabyte dan Matinya Etika



Era Zettabyte dan Matinya Etika

Ida F Priyanto

Pada  tahun 2003,  Universitas California memperkirakan bahwa penduduk dunia telah mengumpulkan sekitar 12 exabyte data (1 exabyte sama dengan 1018 bytes atau sama dengan memutar video selama sekitar 50.000 tahun. Itupun hanya penggalan sejarah manusia dari awal sampai masa penemuan komputer. Para ahli di Universitas California juga memperkirakan bahwa media cetak, film, CD, dan media penyimpanan lainnya telah berkontribusi sekitar 5 exabyte data hanya selama tahun 2002 saja. Dan itu sama dengan 37.000 perpustakaan baru seukuran Library of Congress.
Kalau dilihat jumlah penduduk dunia pada tahun 2002, dimana diperkirakan sekitar 800MB data dihasilkan ooleh setiap orang, maka dapat dikatakan bahwa setiap bayi yang lahir membawa 30 kaki buku, atau sekitar 800MB data cetak. Dar ijumlah total data yang ada, 92 persen  tersimpan di dalam harddisk atau media lain: setiap orang kini memiliki data yang luar biasa lebih dibandingkan masyarakat kita sebelum beralih ke dunia digital.
Menurut data jumlah data di dunia sudah 6 kali lipat, dari 161 exabyte pada tahun 2006 menjadi 988 exabyte pada tahun 2010, sehingga era tersebut sering disebut dengan exaflood. Dan karena pertambahan data begitu cepat, maka tahun ini kita sudah memasuki era zettabyte (1,000 exabyte) yang ditandai dengan jumlah data mencapai lebih dari 1 zettabyte dengan jutaan teknologi informasi.
Teknologi informasi—dari ponsel, tablet, netbook, laptop, desktop, dsb—telah menjadi media yang selalu bersama masyarakat kita. Teknologi informasi telah sangat membantu kita dalam berbagai hal baik sekedar saling berkabar dengan kawan sampai ke dunia pendidikan, ekonomi, dan bahkan sistem pertahanan.
Manfaat teknologi informasi sangat besar untuk berbagai keperluan. Ketika saya kuliah di Inggris 20 tahun yang lalu, hampir tiap hari menulis surat ke rumah dan tumpukan kertas surat membumbung di kamar. Kalau ingin menelpon ke rumah, saya memberitahu dulu kapan akan menelpon, lalu beberapa hari kemudian pergi ke jalan untuk mendapatkan telpon umum dan bisa menelpon ke rumah. Saat ini hampir setiap hari saya gunakan media teknologi informasi untuk berkomunikasi dan melihat suasana rumah secara langsung.
Namun demikian, teknologi informasi juga telah membawa banyak kerugian dan musibah bagi sebagian orang dari sekedar gulung tikarnya wartel (dan kini secara perlahan gulung tikarnya warnet), gangguan kenyamanan dan ketenangan sampai dengan tindak kejahatan yang semakin luas.
Ponsel kini sering menerima sms iklan atau memberi kabar burung mendapatkan hadiah jutaan atau milyaran rupiah, email kita juga sering mendapatkan kabar permintaan pertolongan karena “kawan“ kita mendapatkan musibah, ponsel kita juga mendapatkan berbagai iklan yang tidak selalu kita butuhkan. Email dan jejaring sosial kita pun sering mendapatkan informasi-informasi yang sangat mengganggu kenyamanan. Kejahatan korporasi yang memberikan alamat email atau nomer handphone seluruh pelanggan kepada orang atau lembaga tertentu untuk menawarkan jasa, dan berbagai hal lain yang membuat kehidupan menjadi tidak nyaman. Teknologi informasi juga biasa digunakan untuk membantu mereka yang mengikuti tes atau ujian masuk.
Etika atau dalam bahasa Jawa unggah-ungguh yang kita miliki semakin luntur karena munculnya teknologi informasi. Dalam rapat-rapat sering kita lihat bagaimana keberadaan orang secara fisik ada, tetapi pikiran tidak di tempat karena penggunaan gadget di genggaman. Atau dia harus keluar masuk ruang pertemuan karena ada telpon yang terus-menerus. Lebih parah lagi kalau menerima telpon di dalam ruang rapat! Bunyi dering ponsel juga sering mengganggu di dalam ruang pertemuan dan tidak kalah menarik adalah atraksi di berbagai tempat: dari menelpon sambil menyetir mobil, mengirim sms sambil menyetir, atau menelpon sambil mengendarai sepeda motor atau bahkan sms sambil mengendarai sepeda motor. Hal-hal yang mungkin tidak disadari oleh mereka yang melakukan, padahal sangat mungkin bisa menimbulkan kecelakaan atau mengganggu orang lain. Unggah-ungguh sudah sangat luntur dan mungkin akan lenyap karena teknologi informasi.
Di waktu yang akan datang, kita akan semakin melihat banyak orang berjalan dengan headset. Ada yang berbicara (ponsel) sambil jalan tanpa melihat kalau disitu sedang ada orang-orang tua duduk; ada yang mendengarkan musik melalui headset sehingga tidak sempat melihat ada orang sedang mengikuti hajatan. Hal-hal semacam ini semakin hari semakin kita lihat terjadi. Dan sekali lagi unggah-ungguh seperti nyuwun sewu, nderek langkung, dan sebagainya akan semakin hilang dalam budaya bangsa kita karena teknologi informasi yang ada di genggaman.
Mendidik masyarakat beretika sangat penting dan sangat perlu dilakukan. Hal itu tentu dapat dimulai di rumah. Peran orang tua sangat penting dalam mendidik putra-putrinya untuk menggunakan teknologi informasi.  Demikian halnya peran sekolah dan perguruan tinggi—guru dan dosen dapat memberi contoh dan sekaligus mengajarkan etika teknologi informasi. Kantor-kantor juga perlu membangun etika dan aturan penggunaan berbagai jenis teknologi dari komputer sampai ponsel pribadi. Mungkin juga perlu ada tilang bagi mereka yang menelpon atau sms sambil mengemudikan mobil atau mengendarai sepeda motor sebagaimana dilakukan di negara-negara lain.
Membangun etika teknologi informasi akan berdampak lebih baik dibandingkan sekedar sweeping berkala di beberapa tempat.

*Ida F Priyanto
PhD Student, College of Information, University of North Texas, USA

Publikasi Riset di Indonesia



Komunikasi dan Publikasi Riset di Indonesia


 naskah versi surat kabar diterbitkan oleh Kedaulatan Rakyat 24 April 2013

Ida F Priyanto*


Banyak hasil riset dari perguruan tinggi di Indonesia yang berlalu tanpa ada kelanjutannya. Bahkan banyak yang kemudian tergeletak di rak-rak perpustakaan atau almari Lembaga Penelitian. Hasil riset baik dari mahasiswa S3 maupun pada dosennya seringkali tidak mendapatkan respon.Banyak juga riset yang tidak dilanjutkan menjadi riset yang lebih mendalam atau terrealisasi menjadi produksi massal atapun dipatenkan. Fenomena semacam ini sudah sangat lama terlihat namun masih sangat sedikit tindakan yang nyata untuk menghasilkan produk-produk yang dapat membangun bangsa secara nyata. Kesadaran produksi massal hanya bisa direalisasi kalau sudah dalam bentuk prototype. Namun itupun juga baru terlihat saat ini dengan mobil listrik dan mobil esemka. Boleh dikatakan, kalau konsep masih sulit diterima, kalau prototype bisa membuka mata.

Sementara itu pembangunan negara lebih banyak terjadi dengan melihat apa yang terjadi di negara lain, bukan karena hasil riset yang telah dilakukan oleh bangsa sendiri. Fenomena tersebut seringkali terjadi dalam birokrasi, yaitu dengan banyak melakukan studi banding ke luar negeri dalam berbagai hal misalnya transportasi massal, sistem pemerintahan, dan sebagainya walaupun hasilnya juga tidak selalu dapat dengan mudah diterapkan karena perbedaan budaya.

Banyak studi kelayakan oleh akademisi dilakukan atas permintaan karena akan dibangunnya sebuah proyek atau mega proyek, tetapi sangat jarang pembangunan kita didasarkan atas hasil riset yang dilakukan oleh perguruan tinggi. Justru perguruan tinggi diajak membantu merealisasi suatu proyek dengan studi kelayakan. Komunikasi riset antara perguruan tinggi dan birokrasi masih terlihat berjalan sangat linear dengan arah dan tujuan yang tidak memiliki titik temu. Sudah waktunya perguruan tinggi mendapat kesempatan menjadi leader dalam riset atas masalah bangsa dan kemudian birokrasi menindaklanjuti hasil riset tersebut.

Komunikasi riset
Masalah utama riset di Indonesia ada pada komunikasi riset. Seorang periset sering tidak memiliki media yang dapat menumbuhkan gagasan-gagasan baru untuk melakukan riset lanjutan. Dalam sebuah perguruan tinggi, peran Lembaga Penelitian adalah mewadahi para periset agar hasil-hasil riset tersebut dapat memperoleh respons yang besar dari periset lain atau mendapatkan respons dari lembaga industri. Interaksi riset semacam ini belum nampak sebagai suatu gejala peningkatan pertumbuhan yang kemudian dapat membangun kemajuan suatu ilmu, menghasilkan paten, ataupun menghasilkan produksi massal.

Kalau dilihat dari jumlah publikasi Indonesia yang semakin kalah bersaing dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi di Asia Tenggara, maka sudah selayaknya perlu ada jalan keluar yang baik agar publikasi semakin meningkat. Publikasi internasional dari hasil riset dari perguruan tinggi di Indonesia sangat kecil karena beban biaya publikasi jurnal-jurnal luar negeri yang sangat tinggi. Sampai saat ini belum ada solusi besar untuk hal ini.

Namun demikian, komunikasi hasil riset dengan lembaga industri nasional sudah selayaknya dibangun agar hasil riset tidak sekedar menjadi catatan sejarah riset dan tidak ada tindak lanjut. Banyaknya pakar, periset dan orang-orang pintar di Indonesia perlu diwadahi oleh pemerintah Indonesia agar mereka tidak lari dari negeri sendiri untuk dapat mengaktualisasi diri.

Fenomena riset yang terjadi pada mahasiswa S3 di Indonesia juga kurang menunjukkan greget yang tinggi dan terkesan kurang mendapatkan dorongan besar secara internal di perguruan tinggi. Perguruan tinggi perlu membangun komunikasi riset mahasiswa S3 dengan presentasi-presentasi secara umum, bila diperlukan. Media komunikasi riset dan komunikasi risetnya sendiri memang masih lemah.

Disertasi dan tesis yang ada di perpustakaan pada umumnya menjadi tujuan utama para mahasiswa untuk mencotoh model tulisan atau untuk mengetahui apakah penelitian yang akan diajukan sudah ada atau belum. Mahasiswa-mahasiswa tersebut kemudian akan menghasilkan disertasi berikutnya untuk kemudian disimpan di perpustakaan yang menjadi dokumen dengan peran yang sama dengan disertasi dan tesis pendahulunya. Jadi masih kurang ada disertasi dan tesis yang merupakan follow-up dari riset yang sebelumnya sehingga dapat menghasilkan kajian yang lebih mendalam. Ada kecenderungan bahwa dalam dunia pendidikan kita tidak terjadi revolusi keilmuan. Perkembangan keilmuan justru terjadi dari diskusi dan pembicaraan di luar hasil riset dan kemudian diwujudkan dalam pembukaan program studi atau minat baru.

Komunikasi antara satu periset dengan periset lain masih belum dibudayakan, termasuk di dalamnya komunikasi antara dosen dan mahasiswa pascasarjana. Komunikasi dosen dan mahasiswa pasacasarjana tidaklah selalu berjalan lancar karena kesibukan dosen atau karena kesibukan mahasiswanya. Itulah alasan lain mengapa keilmuan di Indonesia masih belum berkembang dengan baik tetapi jumlah program studi dan minat sangat besar. Menurut Diana Crane (1972)  jika tingkat komunikasi interpersonal maupun pengaruhnya masih rendah, maka pertumbuhan publikasi hasil riset secara kumulatif juga tidak menunjukkan perkembangan berarti. Kurangnya komunikasi interpersonal dalam keilmuan benar-benar melemahkan perkembangan intelektual dalam bidang keilmuan.

Media komunikasi dan informasi yang kebanyakan tidak dkelola dengan baik oleh perguruan tinggi adalah publikasi jurnal, perpustakaan dan arsip. Banyak jurnal hidup di dalam fakultas atau jurusan tanpa ada wadah yang jelas di tingkat universitas. Model kelembagaan seperti ini terjadi di banyak perguruan tinggi. Universitas tidak melakukan banyak hal dalam urusan penerbitan jurnal dari tiap fakultas atau jurusan. Hidup matinya jurnal seringkali juga tidak diketahui secara jelas oleh perguruan tinggi, tetapi hanya diketahui oleh jurusan atau fakultas yang bersangkutan.

Contoh menarik adalah yang terjadi di Cologne, Jerman, dimana Perpustakaan tidak hanya berperan sebagai diseminator publikasi, melainkan sekaligus menjadi produser informasi. Publikasi dalam bentuk jurnal dan buku ditangani oleh perpustakaan yang sekaligus berperan sebagai diseminator. Penyatuan penerbitan, arsip, dan perpustakaan menjadi satu atap membuat organisasi informasi lebih tertata rapi.

Fenomena riset dan jurnal ilmiah
Jurnal ilmiah pada umumnya diterbitkan oleh lembaga sains, asosiasi ilmiah atau unit di perguruan tinggi. Dari banyak penelitian yang dihasilkan sebagian besar diterbitkan dalam bentuk publikasi jurnal ilmiah oleh unit di perguruan tinggi atau dalam bentuk repository. Hasil-hasil riset dalam bentuk repository kemudian menjadi koleksi perpustakaan. Sementara hasil riset yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah didiseminasi ke berbagai perguruan tinggi lain dan masuk ke perpustakaan. Perlu diingat juga bahwa tidak semua jurnal di Indonesia hidup dengan mulus. Ada jurnal-jurnal yang sangat kekurangan naskah untuk dipublikasi sehingga jurnal-jurnal tersebut menjadi setengah hidup.

Meskipun ada Undang-Undang dimana setiap penerbit diwajibkan menyerahkan ke Perpustakaan Nasional, tetapi hal itu tidak berjalan seperti yang diharapkan. Di Yogyakarta, bahkan ada peraturan daerah yang mewajibkan penerbit publikasi menyerahkan dua eksemplar ke Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY, tetapi yang berjalan adalah hanya penerbit-penerbit buku yang sadar akan pentingnya diseminasi, sedangkan penerbit jurnal belum menyerahkan terbitannya ke BPAD tersebut. DIKTI juga telah membangun portal Garuda, yang berisi artikel-artikel jurnal dari berbagai perguruan tinggi dan sudah disosialisasikan ke berbagai perguruan tinggi. Namun keterbatasan fasilitas teknologi informasi, menjadikan fasilitas tersebut tidak selalu tersedia di seluruh perguruan tinggi.

Sementara itu penerbitan hasil penelitian dalam jurnal-jurnal internasional belum mendapatkan perhatian yang besar. Di Asia Tenggara, publikasi internasional tahun 2011 saja Indonesia jauh di bawah Thailand, Singapore dan Malaysia, dimana Indonesia menghasilkan 1.562 publikasi internasional, sementara Thailand 8.640, Singapore 13.428 dan Malaysia 13.443. Pemerintah Malaysia dengan jumlah perguruan tinggi yang lebih sedikit dibandingkan Indonesia saat ini terus berupaya melakukan dorongan besar sehingga sejak tahun 2010 mampu mengungguli Singapore dalam publikasi internasionalnya dan jumlahnya mencapai hampir 9 kali lebih besar dari jumlah publikasi internasional Indonesia. Pertambahan publikasi internasional dari Indonesia sebanyak 100-200 per tahun, sedangkan Malaysia mencapai 1000-3000 artikel per tahun. Perbedaan yang sangat jauh.

Dorongan dan bantuan untuk publikasi internasional sangat diperlukan, terutama di tingkat nasional agar publikasi internasional dari Indonesia meningkat. Periset yang ingin menerbitkan hasil risetnya ke jurnal internasional harus membayar cukup mahal agar dapat dipublikasi. Hal ini sangat kontradiski dengan model penerbitan di Indonesia, dimana para penulis justru dapat memperoleh honorarium apabila naskahnya diterima dan dipublikasikan.

Fenomena diseminasi
Diseminasi informasi sudah semakin kompleks. Adanya ejournals memang sangat membantu periset untuk mendapatkan referensi yang dapat mendukung apa yang sedang diteliti. Saat ini ada hal yang sedang menjadi keprihatinan dalam diseminasi riset dalam bentuk ejournal dan kemudahan akses informasi. Dalam waktu dekat, dimungkinkan publikasi-publikasi ilmiah perguruan tinggi akan semakin dikuasai oleh perusahaan database komersial yang menerima jurnal berisi hasil riset dari berbagai perguruan tinggi untuk dipublikasikan dalam bentuk paket database.

Dilema pertama, jurnal perguruan tinggi Indonesia dimasukkan sebagai bagian dari database komersial untuk mendapatkan royalti dan menyerahkan hak cipta kepada perusahaan database komersial tersebut. Untuk dapat memanfaatkan publikasi, perguruan tinggi dimana periset bekerja harus melanggan atau membeli jurnal tersebut dengan harga yang jauh lebih tinggi lagi.

Sebagai contoh kecil di salah satu perguruan tinggi besar di Indonesia, ada satu jurnal bisnis yang telah terpublikasi dalam database komersial yang cukup bergengsi. Dengan adanya kontrak antara penerbit jurnal dan perusahaan database, maka masyarakat ilmiah di perguruan tinggi tersebut tidak memiliki hak lagi atas kekayaan intelektual atas jurnal yang diterbitkan. Untuk dapat membaca jurnal tersebut secara elektronik, masyarakat perguruan tinggi tersebut harus tunduk dan patuh dengan perusahaan asing tersebut, yaitu dengan cara melanggan database yang memuat jurnal tersebut setiap tahun. Praktis, untuk dapat dikenal luas, kita menyerahkan kekayaan intelektual ke penerbit internasional. Kekayaan intelektual bangsa kita tidak lagi ada di dalam negeri, melainkan ada di negara asing dan kita harus membayar untuk mendapatkan akses untuk membaca tulisan produksi dari Indonesia.

Perpustakaan dan ejournals
Ada fenomena menarik lainnya dalam pengembangan koleksi perpustakaan di Indonesia. Saat ini langganan database ejournals menjadi sebuah trend yang sangat luar biasa walaupun dengan mengorbankan pembelian buku teks di sejumlah perguruan tinggi.

Mahalnya langganan ejournal telah membuat perpustakaan di Indonesia melanggan paket-paket database, terutama paket database komersial agregasi yang berisi banyak judul ejournals. Cara berpikir para administrator di perguruan tinggi masih melakukan pertimbangan harga rata-rata dari setiap database ejournals berdasarkan jumlah judul, bukan kualitas judul, sehingga harga tinggi dengan kualitas tinggi tidak menarik bagi perguruan tinggi karena jumlah judul yang ditawarkan sangat sedikit. Namun harga sedang atau tinggi dengan jumlah judul yang sangat banyak memberikan daya tarik yang besar karena dalam pikiran administrator perguruan tinggi, penghitungan biaya langganan database ejournal di Indonesia adalah berdasar pemikiran sederhana bahwa semakin banyak judul berarti harganya semakin murah. Meskipun sebagian besar judul tersebut tidak memiliki kualitas atau tidak sesuai dengan kebutuhan sebagian besar sivitas akademika dalam perguruan tinggi tersebut, hal itu tidak menjadi perhatian besar dari administrator perguruan tinggi.


Ida F Priyanto
PhD Student, iSchool, PhD Interdisciplinary Studies in Information Science, University of North Texas,  Texas, USA

Politik Pendidikan



Politik Pendidikan
Ida F Priyanto*

Politik pendidikan belum berkembang di Indonesia. Sementara negara lain terus berpacu dalam pengembangan politik pendidikan tersebut. Mobilisasi mahasiswa Cina, India dan Korea Selatan dalam dunia pendidikan sangat terlihat saat ini. Perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Eropa saat ini juga didominasi mahasiswa asing dari China dan India.
Mahasiswa dari China yang belajar di Amerika Serikat mencapai 157.558 orang menurut data IEE tahun ini. Sementara itu jumlah mahasiswa India di Amerika Serikat adalah 103.895 orang, disusul dengan Korea Selatan yang mencapai 73.361 orang. Ketiga negara tersebut mengirimkan mahasiswanya dalam berbagai bidang tetapi terutama adalah dalam bidang sains dan teknologi. Sementara itu mahasiswa dari Vietnam yang mengikuti pendidikan di Amerika Serikat mencapai 14.808 orang dan dari Indonesia adalah 6.942 orang (50 persen menurun dibanding jumlah sebelum tahun 1997/1998).
Sementara negara-negara kecil dengan penduduk sangat kecil mencari kader-kader mahasiswa cerdas dari negara berkembang untuk mendapatkan pendidikan, melakukan penelitian dan bahkan bekerja atau menjadi ilmuwan di negara tersebut. Singapore telah beberapa tahun mengundang anak-anak cerdas dari negara berkembang sejak usia sekolah menengah untuk mengikuti pendidikan di negara tersebut dan menghasilkan penelitian disana. Saat ini Inggris juga mulai menarik mahasiswa S1 untuk belajar di Inggris.  Tentu mereka memiliki tujuan yang sangat terkait dengan politik pendidikan.
Malaysia juga sudah memulai hal tersebut dengan mengirimkan banyak mahasiswa tingkat S1 ke berbagai negara termasuk ke Indonesia dan kemudian setelah lulus mereka kembali ke tanah air dan membangun peta pendidikan dan penelitian. Hal ini dapat kita lihat dari pertumbuhan penelitian perguruan tinggi Malaysia yang saat ini sudah 9 kali lebih besar dibandingkan jumlah penelitian dari Indonesia, padahal jumlah penduduk Malaysia jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Namun Malaysia memang membangun negara dan berguru dari negara lain untuk kemudian membangun pendidikan dan penelitian dengan benar. Salah satu contoh adalah Petronas yang dulu berguru dari Pertamina dan saat ini sudah mampu mengungguli Pertamina.
Di Asia Tenggara, Singapore dan Malaysia sama-sama memiliki output penelitian sampai 9 kali lebih besar di banding Indonesia. Menurut data riset terbaru Scopus yang digunakan untuk perankingan perguruan tinggi internasional tahun ini, pada tahun 2011 Malaysia telah menghasilkan 19.566 produk riset yang termuat di dalam jurnal internasional dan Singapore mencapai 15.198 produk penelitian dan kemudian disusul oleh Thailand yang mencapai 10.290 produk penelitian sedangkan Indonesia adalah 2.975. Keunggulan riset Malaysia atas Singapore layak menjadi perhatian.
Dalam kurun waktu 10-20 tahun mendatang peta politik pendidikan skala makro akan sangat terlihat terjadi pergeseran-pergeseran yang luar biasa. India akan terus berkembang terutama dalam bidang sains dan engineering, sedangkan Cina, selain mengembangkan bidang sains dan teknologi, juga mengembangkan bidang-bidang lainnya termasuk social dan humaniora. Tidak kalah menarik adalah perkembangan dari negara seperti Korea Selatan dan Vietnam yang juga terus mengembangkan mahasiswa baru tingkat S1 di luar negeri. Dari jumlah mahasiswa Korea Selatan yang belajar di Amerika Serikat, 50 persen adalah mahasiswa S1, sedangkan dari Vietnam 74.2 persen.
Perkembangan di atas sangat menarik tetapi kurang begitu diamati dalam dunia pendidikan kita di Indonesia. Kalaupun mengamati, mereka juga akan terganjal dengan politik di dalam negeri. Politik pendidikan membutuhkan para pemikir di skala makro. Kita juga membutuhkan politisi-politisi yang mampu membaca peta politik pendidikan di dunia dan mengimplementasikannya untuk perkembangan bangsa. Kita tidak perlu terlalu memikirkan proporsi berapa banyak mahasiswa belajar di dalam atau di luar negeri, tetapi bagaimana agar mahasiswa-mahasiswa yang belajar di luar negeri kembali ke Indonesia dan bangga membangun bangsa dan yang belajar di dalam negeri menunjukkan karyanya di kancah internasional karena kita memiliki kekayaan ilmu yang sangat luar biasa.
Saat ini banyak orang peduli pendidikan tetapi dengan kacamata sosial. Memberikan beasiswa kepada mereka yang tidak mampu agar dapat mengenyam pendidikan tinggi dan dapat bekerja dan hidup lebih layak. Jadi prinsip utama pembangunan pendidikan masih terbatas pada pemikiran pemberian bantuan pendidikan bagi yang kurang mampu. Sudah waktunya konsep ini mulai dikaitkan lebih tinggi lagi dalam skala politik pendidikan. Mewadahi anak-anak cerdas untuk dikembangkan sebagai pemikir unggul untuk berkompetisi dalam politik pendidikan sangat diperlukan. Politik lokal pendidikan perlu disinergikan sehingga menjadi pola pendidikan yang besar dan dapat membangun peta politik pendidikan Indonesia.
Rasa nasionalisme saja tidak cukup untuk membangun politik pendidikan. Dibutuhkan pemikiran yang lebih besar lagi dalam tingkat nasional agar posisi pendidikan dan riset Indonesia bisa semakin diakui secara Internasional. 
*Ida F Priyanto, iSchool, PhD Interdisciplinary Studies in Information Science, University of North Texas, USA